, ,

Yan Mandenas Kecam BBKSDA Papua Bakar Mahkota Cenderawasih

by -767 Views
cek disini

NEWS BOTAWA– Aksi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua yang membakar sejumlah mahkota Cenderawasih menuai kecaman keras dari berbagai pihak, termasuk dari Anggota DPR RI asal Papua, Yan Permenas Mandenas. Politikus Partai Gerindra itu menilai, tindakan pembakaran tersebut tidak hanya menyakiti hati masyarakat Papua, tetapi juga melecehkan nilai-nilai adat dan budaya yang selama ini menjunjung tinggi burung Cenderawasih sebagai simbol kehormatan.

Cenderawasih, Simbol Sakral yang Tak Boleh Diperlakukan Sembarangan

Mandenas menegaskan, dirinya sepenuhnya mendukung upaya penegakan hukum terhadap perdagangan ilegal satwa dilindungi, termasuk pelarangan penggunaan bulu dan tubuh Cenderawasih untuk dijadikan hiasan kepala atau mahkota adat. Namun, ia menilai cara yang dipilih BBKSDA—membakar benda-benda tersebut—adalah langkah yang tidak bijak.

“Langkah penertiban saya dukung, tapi tidak dibenarkan melakukan penertiban dengan membakar mahkota Cenderawasih,” ujar Mandenas dengan nada tegas.

Menurutnya, Cenderawasih bukan sekadar burung endemik Papua, melainkan simbol martabat dan identitas masyarakat adat di tanah Papua. Mahkota yang terbuat dari bulu Cenderawasih kerap digunakan dalam upacara adat, tarian tradisional, serta menjadi lambang kehormatan bagi kepala suku dan tokoh masyarakat.

“Membakar mahkota Cenderawasih sama saja dengan membakar simbol adat dan kebanggaan orang asli Papua,” lanjutnya.

Aksi Pembakaran yang Menimbulkan Luka Kolektif

Aksi pembakaran mahkota dan aksesoris Cenderawasih itu dilakukan BBKSDA Papua pada Senin, 20 Oktober 2025, sebagai bagian dari upaya pemusnahan barang bukti hasil sitaan perdagangan ilegal satwa dilindungi. Namun, langkah tersebut justru menimbulkan gelombang kekecewaan di kalangan masyarakat dan tokoh adat Papua.

Anggota DPR Kecam BBKSDA Papua Bakar Mahkota Cenderawasih

Baca Juga: KemenPANRB Dorong Kepulauan Yapen Jadi Pelopor Pemerintahan Digital di Papua

Mandenas menilai, BBKSDA seharusnya lebih sensitif terhadap nilai-nilai budaya lokal. Ia menyarankan agar barang bukti tersebut dimusnahkan dengan cara lain yang lebih menghormati adat, misalnya dikubur secara simbolis atau diserahkan kepada lembaga adat untuk dimusnahkan secara ritual.

“Penertiban itu perlu, tapi tidak dengan cara dibakar. Membakarnya merupakan langkah yang sangat melecehkan adat dan budaya orang asli Papua,” kata Mandenas.

BBKSDA Papua Akui Kesalahan dan Sampaikan Permohonan Maaf

Di sisi lain, Kepala BBKSDA Papua, Johny Santoso Silaban, akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat Papua atas tindakan pembakaran mahkota Cenderawasih tersebut.

“Kami menyadari bahwa tindakan tersebut menimbulkan luka dan kekecewaan di hati masyarakat Papua. Dengan penuh rasa hormat dan kerendahan hati, kami menyampaikan permohonan maaf yang tulus,” ujar Johny dalam keterangan resminya.

Johny menegaskan, pemusnahan dilakukan murni untuk menegakkan hukum dan memutus rantai perdagangan ilegal satwa liar dilindungi, bukan untuk melecehkan budaya atau identitas masyarakat Papua.

tokopedia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.